You are here: Home Artikel Manaqib HAWA NAFSU ~2~

www.sufibetawi.com

HAWA NAFSU ~2~

E-mail Print PDF

Seorang penulis tak dikenal (Unknown Author) menggabarkan hawa nafsu (desire)
secara menarik dalam sebuah cerita berikut :
‘Seorang raja keluar dari istananya untuk berjalan-jalan pagi,
ia bertemu dengan pengemis tua, raja bertanya; “Apa yang kau inginkan ?”
sang pengemis tertawa lalu berkata, “Kau bertanya seakan-akan kau bisa
memenuhi keinginanku !”
“Tentu saja aku bisa memenuhi keinginanmu,” kata raja tersinggung,
“Apa keinginanmu,…sebutkan saja !”
“Berpikir dua kali sebelum kau menjanjikan sesuatu,” kata si pengemis tua.
Pengemis itu bukan pengemis biasa, dulu ia adalah guru sang raja,..tapi ia lupa.
“Aku akan memenuhi semua keinginanmu, aku adalah raja adi kuasa,
mustahil aku tidak mampu memenuhi keinginanmu,” kata sang raja bersikeras.
Si Pengemis akhirnya berkata, “Keinginanku sederhana saja, penuhilah mangkok
yang kugunakan untuk mengemis ini !”
“Tentu,” kata raja, ia memanggil salah seorang wazirnya lalu memerintahkan,
“Penuhi mangkok ini dengan uang.”
Wazir itu pergi mengambil uang dan menuangkannya kedalam mangkok,
tapi uang itu lenyap didasar mangkok, ia menuangkan lagi kedalam mangkok,
lagi-lagi uang itu lenyap, dan begitu seterusnya.
Berita mulai tersebar dan orang-orang mulai berdatangan,
harga diri raja dipertaruhkan didepan khalayak ramai.
Raja berkata kepada wazirnya, “Kalau kekayaan kerajaan ini harus terkuras habis,
....aku rela, tapi aku tidak boleh kalah dengan pengemis itu.”
Intan berlian, mutiara, zamrud dan kekayaan lainnya mulai masuk kedalam mangkok,
namun sayang mangkok itu seakan tidak berdasar, semua masuk kedalamnya,..
akan lenyap begitu saja.
Akhirnya masuk waktu maghrib, orang-orang yang berkerumun terpaku membisu,
raja menjatuhkan dirinya di kaki pengemis, “Aku mengaku kalah,” kata sang raja.
“Namun sebelum kau pergi, obatilah penasaranku ini, sesungguhnya mangkok itu
terbuat dari apa ?”
Si Pengemis tertawa dan berkata, “Tak ada yang perlu dirahasiakan, mangkok ini tebuat
dari hawa nafsu manusia.”
Demikian cerita itu berakhir.

Ketika menginginkan komputer, mobil atau rumah, kita mengalami suasana
yang penuh dengan penantian, kita merasa tegang..waktupun berjalan sangat lambat.
Setelah penantian yang panjang akhirnya sampailah barang itu ketangan kita,
kita merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
Saat itu kita adalah orang yang paling bahagia didunia, namun berjalannya waktu
tiba-tiba rasa bahagia dan asyik itu lenyap begitu saja.
Apa yang sesungguhnya terjadi ! kita lihat computer diatas meja, mobil dihalaman,
dan rumah berdiri megah, namun tak ada lagi luapan kebahagiaan dan teriakan senang.
Barang-barang itu terlihat biasa-biasa saja, tiada yang istimewa.
Kemudian muncul kesepian baru yang mendorong timbulnya keinginan baru,
lalu kita dihantui untuk segera mewujudkan keinginan baru itu.
Setiap kali kita berhasil ‘memenuhi’ suatu keinginan, mungkin muncul keinginan baru.
Apakah kita rela dipemainkan oleh keinginan-keinginan kita sampai ajal datang menjemput ?
Katakana pada hawa nafsu kita : STOP ! lalu kita mulai menimati dan mensyukuri apa-apa
yang telah kita miliki, sebab barang-barang lama kita ternyata masih mengasyikkan
dan bisa memenuhi keperluan kita, dan sebagian barang itu kita peroleh
dengan susah payah dan juga tidak semua orang mampu memilikinya.

Kata – Kata Bijak :

Jika hawa nafsu terus mendesakmu agar memenuhi tuntutannya,
jangan kau katakana, ‘OK, sekali ini saja agar kau tidak terus mengusikku.’
Sebab sekali saja kau penuhi, ia akan menuntut lagi yang lebih besar.
(Habib Abduloh Al Haddad)
Kau dipenjarakan dan dikecewakan oleh keinginan-keingianmu. (Rumi)
Lebih mudah untuk menekan keinginan yang pertama daripada memenuhi
keinginan-keinginan yang datang setelahnya. (Benyamin Franklin)
Semua katifitas manusia dipicu oleh keingiaannya. (Bertrand Russel).
Sebagaimana api ditutup oleh asap, kaca disuramkan oleh debu,
embrio terbaring jauh didasar kandungan, maka hikmah tersembunyi dalam hawa nafsu.
(Bhagawad Gita).
Siapa yang dapat menahan amarahnya, mampu mengalahkan musuh yang sengit.
Orang terkadang berbuat jahat dengan cara yang tidak masuk akal,
padahal ia sadar bahwa perbuatan itu akan mencoreng mukanya. Jangan heran !